
Pahami cara menghitung SLA internet, rumus uptime, contoh SLA 99,5%, serta batas downtime untuk menilai kualitas layanan provider.
Kestabilan koneksi internet sangat penting bagi operasional bisnis. Selain kecepatan, perusahaan perlu memahami jaminan ketersediaan layanan yang diberikan provider melalui Service Level Agreement atau SLA.
Mengetahui cara menghitung SLA membantu Anda memperkirakan batas downtime dan menilai apakah kualitas layanan internet sudah sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan.
SLA atau Service Level Agreement adalah kesepakatan antara provider dan pelanggan yang menetapkan standar layanan, termasuk tingkat ketersediaan koneksi, batas downtime, serta penanganan gangguan.
Dalam layanan internet bisnis, SLA menjadi acuan untuk mengetahui seberapa konsisten koneksi tersedia selama periode tertentu. Memahami SLA juga membantu perusahaan membandingkan kualitas layanan sebelum memilih provider.
Semakin tinggi persentase SLA, semakin kecil batas downtime yang diperbolehkan. Karena itu, SLA perlu diperhatikan bersama kecepatan internet, stabilitas jaringan, dukungan teknis, dan kebutuhan operasional. Dengan memahami ketentuan SLA sejak awal, perusahaan bisa memilih layanan internet yang sesuai dengan tuntutan aktivitas bisnis sehari-hari.
Cara menghitung SLA pada dasarnya menggunakan perbandingan antara total waktu layanan dengan waktu downtime yang terjadi. Rumusnya adalah
SLA = (Total waktu layanan − waktu downtime) ÷ total waktu layanan × 100%
Sebagai contoh, sebuah layanan internet digunakan selama 30 hari. Total waktunya adalah 720 jam. Jika terjadi downtime selama 1 jam, maka waktu layanan yang tersedia menjadi 719 jam.
Perhitungannya
SLA = (720 − 1) ÷ 720 × 100%
SLA = 99,86%
Artinya, selama periode tersebut tingkat ketersediaan layanan mencapai 99,86%.
Dalam praktiknya, periode pengukuran perlu diperhatikan. SLA bisa dihitung berdasarkan periode bulanan, tahunan, maupun ketentuan tertentu yang tercantum dalam kontrak layanan. Definisi downtime juga perlu diperiksa karena maintenance terjadwal bisa memiliki ketentuan tersendiri.
Untuk memahami perhitungan secara lebih jelas, SLA 99,5% dapat dihitung berdasarkan total waktu dalam satu periode. Misalnya, periode yang digunakan adalah 30 hari.
Perhitungan SLA 99,5% dalam 30 hari
| Komponen | Perhitungan | Hasil |
| Jumlah hari | 30 hari | 30 hari |
| Total waktu layanan | 30 × 24 jam | 720 jam |
| Target SLA | 99,5% | 99,5% |
| Waktu layanan tersedia | 720 × 99,5% | 716,4 jam |
| Batas downtime | 720 − 716,4 jam | 3,6 jam |
| Batas downtime dalam menit | 3,6 × 60 | 216 menit |
Dari perhitungan tersebut, SLA 99,5% dalam periode 30 hari berarti layanan tersedia selama sekitar 716,4 jam. Sementara itu, batas downtime yang setara dengan 0,5% dari total 720 jam adalah 3,6 jam atau 3 jam 36 menit.
Contoh SLA 99,5% pada periode berbeda
Contoh SLA 99,5% pada periode berbeda
| Periode | Total Waktu | Downtime Maksimal |
| 1 hari | 24 jam | 7,2 menit |
| 7 hari | 168 jam | 50,4 menit |
| 30 hari | 720 jam | 3 jam 36 menit |
| 90 hari | 2.160 jam | 10 jam 48 menit |
| 1 tahun | 8.760 jam | 43 jam 48 menit |
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi seluruh waktu dalam periode dihitung sebagai waktu layanan. Ketentuan kontrak provider tetap perlu diperiksa untuk mengetahui periode pengukuran dan kondisi yang termasuk dalam perhitungan SLA.
SLA 99,5% berarti terdapat toleransi downtime sebesar 0,5% dari total waktu layanan. Jika dihitung dalam periode 30 hari atau 720 jam, downtime maksimalnya adalah 3 jam 36 menit. Angka tersebut berbeda ketika periode pengukurannya berubah. Dalam tujuh hari, misalnya, total waktu layanan adalah 168 jam sehingga batas downtime sekitar 50,4 menit.
Perbandingan beberapa tingkat SLA dalam periode 30 hari dapat dilihat berikut ini:
| Target SLA | Downtime Maksimal |
| 99% | 7 jam 12 menit |
| 99,5% | 3 jam 36 menit |
| 99,9% | 43 menit 12 detik |
| 99,99% | 4 menit 19 detikY |
Semakin tinggi persentase SLA, semakin kecil waktu downtime yang diperbolehkan dalam periode yang sama.
Persentase uptime tidak hanya bergantung pada angka yang tercantum dalam kontrak. Infrastruktur jaringan dan proses pengelolaan gangguan juga berperan dalam menjaga ketersediaan layanan.
Redundansi jaringan digunakan untuk mengurangi dampak ketika perangkat atau jalur utama mengalami gangguan. Provider dapat menyiapkan perangkat cadangan dan jalur alternatif sehingga layanan tidak sepenuhnya bergantung pada satu komponen.
Dengan rancangan tersebut, perpindahan koneksi bisa dilakukan ketika terjadi masalah pada infrastruktur utama. Hal ini penting bagi bisnis yang membutuhkan koneksi internet secara berkelanjutan untuk aktivitas operasional.
Network monitoring membantu provider mengawasi kondisi jaringan secara terus-menerus. Sistem pemantauan dapat memberikan informasi mengenai gangguan, perubahan performa, hingga kondisi perangkat yang membutuhkan pemeriksaan.
Tim teknis kemudian bisa melakukan pengecekan berdasarkan data yang tersedia. Pemantauan selama 24 jam juga penting untuk mendukung cara menghitung SLA secara akurat karena waktu terjadinya gangguan dan pemulihan perlu tercatat dengan jelas.
Jalur koneksi alternatif menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga ketersediaan internet. Ketika jalur utama mengalami gangguan, provider dapat mengalihkan koneksi melalui jalur lain sesuai rancangan infrastrukturnya.
Mekanisme ini membantu mengurangi durasi gangguan yang dialami pelanggan. Bagi perusahaan dengan aktivitas digital yang berlangsung sepanjang hari, keberadaan jalur alternatif juga membantu menjaga akses ke aplikasi, sistem internal, layanan cloud, dan komunikasi bisnis.
Preventive maintenance dilakukan secara berkala untuk menjaga kondisi perangkat dan infrastruktur jaringan. Pemeriksaan dapat mencakup perangkat jaringan, jalur komunikasi, sumber daya pendukung, hingga komponen lain yang berpengaruh terhadap layanan.
Pemeliharaan rutin membantu menemukan potensi masalah sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar. Namun, pelanggan tetap perlu memperhatikan ketentuan SLA karena maintenance terjadwal biasanya memiliki aturan tersendiri dalam perhitungan ketersediaan layanan.
Dukungan teknis berperan ketika pelanggan mengalami gangguan koneksi. Provider perlu memiliki prosedur penerimaan laporan, pemeriksaan masalah, eskalasi kepada tim terkait, hingga proses pemulihan layanan.
Kecepatan setiap tahap tersebut dapat mempengaruhi lama downtime. Karena itu, pelanggan sebaiknya memperhatikan ketentuan mengenai waktu respons dan penanganan gangguan ketika memilih layanan internet bisnis.
Bagi perusahaan, SLA perlu dilihat bersama kebutuhan operasional. Koneksi internet yang digunakan untuk aplikasi cloud, transaksi, komunikasi kantor, sistem monitoring, maupun akses jarak jauh membutuhkan tingkat ketersediaan yang sesuai dengan aktivitas tersebut.
BuanterNet merupakan bagian dari layanan DTP yang menyediakan konektivitas untuk kebutuhan bisnis. Dalam memilih layanan, perusahaan sebaiknya melihat detail paket, cakupan layanan, ketentuan SLA, proses penanganan gangguan, serta kebutuhan jaringan di lokasi.
Jika bisnis berada di wilayah yang membutuhkan koneksi satelit, DTP juga menyediakan beberapa layanan VSAT. Situs resminya mencantumkan layanan Ku-Band dan C-Band, termasuk BuanterSat serta layanan dedicated VSAT.
- Apa rumus untuk menghitung SLA?
Rumusnya adalah total waktu layanan dikurangi downtime, kemudian dibagi total waktu layanan dan dikalikan 100%. Hasilnya menunjukkan persentase ketersediaan layanan dalam periode tertentu.
- SLA 99,5% berapa lama downtime?
Dalam periode 30 hari, SLA 99,5% memiliki batas downtime sekitar 3 jam 36 menit. Angka tersebut berubah mengikuti periode pengukuran.
- Apakah SLA 99,5% bagus untuk bisnis?
SLA 99,5% bisa sesuai untuk kebutuhan tertentu. Namun, perusahaan perlu melihat tingkat ketergantungan terhadap internet dan kebutuhan operasional sebelum menentukan standar yang sesuai.
- Apa perbedaan SLA dan uptime?
Uptime menunjukkan persentase waktu ketika layanan tersedia. SLA merupakan kesepakatan tingkat layanan antara provider dan pelanggan yang dapat mencakup uptime, downtime, respon gangguan, dan ketentuan layanan lainnya.
- Apakah downtime maintenance masuk dalam SLA?
Hal tersebut bergantung pada isi kontrak. Maintenance terjadwal bisa memiliki ketentuan berbeda dari gangguan yang tidak direncanakan, sehingga detail SLA perlu dibaca sebelum berlangganan.
Memahami cara menghitung SLA membantu perusahaan mengetahui hubungan antara persentase uptime dan batas downtime. SLA 99,5% dalam periode 30 hari setara dengan batas downtime sekitar 3 jam 36 menit. Namun, angka tersebut tetap perlu dilihat bersama kebutuhan bisnis dan ketentuan layanan provider.


